AIDA: Rumus Ampuh untuk Meningkatkan Penjualan

Apapun produk yang Anda tawarkan, tentu harus dipromosikan dengan baik, kan? Tapi, bagaimana caranya? Jawabannya, menggunakan konsep AIDA.

AIDA adalah rumus yang bisa Anda jadikan pedoman saat mempromosikan produk. Rumus ini akan memandu Anda dalam upaya meningkatkan penjualan, mulai dari menarik perhatian calon konsumen hingga mengajak mereka untuk membeli produk.

Nah, penasaran kan? Jadi, apa sih sebenarnya rumus AIDA? Lalu, bagaimana cara menerapkannya? Tenang, di artikel ini, kami akan mengupas tuntas rumus ini sampai ke akarnya. Yuk, simak sampai selesai!

Apa itu AIDA?

AIDA merupakan singkatan dari Attention, Interest, Desire, dan Action. Rumus ini biasa digunakan dalam praktik content marketing. Contohnya, saat menulis copy di suatu iklan atau membuat artikel di blog,

Keempat istilah yang terkandung di dalam AIDA menunjukkan tahapan untuk mendapatkan konsumen. Jika dilakukan dengan tepat, AIDA bisa membantu meningkatkan penjualan produk Anda.

Berikut penjelasan singkat dari masing-masing tahap:

  1. Attention – Memancing perhatian calon konsumen.
  2. Interest – Membahas permasalahan calon konsumen untuk menarik minat mereka 
  3. Desire – Menawarkan produk Anda sebagai solusi.
  4. Action – Mengajak mereka untuk melakukan pembelian sekarang juga.

Intinya, AIDA adalah pedoman untuk menjalin hubungan dengan calon konsumen hingga menjadi konsumen. Rumus ini sudah cukup sering digunakan dalam strategi pemasaran yang efektif.

Jadi, bagaimana cara menggunakannya? Mari kita lihat di bagian selanjutnya!

Bagaimana Cara Menerapkan Konsep AIDA?

Jangan khawatir, cara menerapkan AIDA sebenarnya cukup sederhana, yaitu dengan mengikuti keempat tahapnya secara berurutan. Akan tetapi, Anda tentu harus memahami apa yang harus dilakukan pada setiap tahapnya.

Oleh karena itu, di bagian ini kita akan membahasnya satu per satu secara lebih mendalam.

1. Attention

Pertama-tama, Anda perlu menarik perhatian calon konsumen terlebih dahulu. Mereka harus tahu bahwa brand dan produk Anda “ada”.

Caranya bagaimana? Simple, Anda tinggal membuat konten yang mampu mengundang perhatian mereka.

Tapi, bagaimana jika konten yang Anda buat malah mengundang perhatian orang yang tidak relevan dengan brand Anda? Dengan kata lain, bagaimana jika kontennya salah sasaran?

Untuk itu, Anda harus tahu dulu siapa yang ingin Anda undang perhatiannya. Dalam hal ini, Anda bisa mengidentifikasi buyer persona, yaitu karakteristik target pasar Anda.

Dengan mengetahui siapa mereka dan apa saja minatnya, Anda akan tahu cara menarik perhatiannya. Logis, kan?

Berikut adalah salah satu contoh konten Attention yang baik. KFC Indonesia mencoba menarik perhatian calon konsumennya dengan postingan Instagram ini:

contoh-aida-kfc

Coba perhatikan baik-baik kontennya…

Ya, betul sekali. Tujuan konten ini bukan untuk promosi atau mendorong penjualan. Fokusnya hanya satu, yaitu: menarik perhatian.

Hal ini bisa dilihat dari tulisan dan gambar konten yang mengundang respon para pembaca. Apalagi, didukung dengan caption yang mengajak audiens untuk beramai-ramai tag akun lain di kolom komentar.

Nah, konten hiburan seperti inilah yang kerap dimanfaatkan untuk menarik perhatian calon konsumen.

Anda bisa menggunakan cara ini juga di berbagai media, seperti artikel blog, video, infografis, dan postingan media sosial.

2. Interest

Oke, Anda sudah berhasil menangkap perhatian calon konsumen Anda. Lalu apa yang mesti Anda lakukan selanjutnya?

Sekarang, Anda perlu menarik minat mereka.

Tapi, bukankah setiap orang punya minat yang berbeda-beda? Benar. Oleh karena itu, Anda perlu tahu apa permasalahan yang dialami target pasar Anda.

Dengan membahas masalah yang mereka alami, brand Anda berarti paham apa yang mereka butuhkan. Hal ini akan menarik minat mereka.

Salah satu contohnya adalah yang dilakukan oleh Traveloka. Berikut adalah artikel yang mereka buat untuk membahas salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh para traveler, yaitu keterbatasan budget alias dana:

contoh-interest-traveloka

Tujuannya jelas, yaitu untuk memberitahu calon konsumennya bahwa mereka masih bisa liburan tanpa harus menguras banyak uang.

Bagi calon konsumen yang memiliki masalah tersebut, tentu artikel ini akan menarik minat mereka, bukan?

Nah, inilah yang mesti Anda lakukan di tahap interest. Pancing minat calon konsumen dengan mengidentifikasi masalah mereka, lalu membahasnya di konten yang Anda buat.

3. Desire

Setelah calon konsumen sadar dengan masalah yang mereka hadapi, Anda bisa mengambil kesempatan ini untuk menawarkan produk Anda sebagai solusi.

Meskipun kedengarannya simple, Anda tidak boleh melakukannya dengan tergesa-gesa. Pastikan tujuan utama Anda adalah untuk menawarkan solusi, bukan untuk menjual produk dulu.

Anda harus fokus pada manfaat, bukan fitur. Hal ini penting, karena motif Anda bisa mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Contohnya, bayangkan Anda ingin membeli alat untuk bersih-bersih rumah, lalu Anda dihadapkan pada dua penawaran:

Fokus pada Fitur
“Xiaomi Viomi V2 Pro adalah robot vacuum cleaner yang dilengkapi dengan teknologi fixed point scanning dan map memory function.
Komponennya lengkap dengan 560 ml water tank dan 10 set sensor. Dengan membeli 1 unit, Anda akan mendapat 1 set robot vacuum cleaner, kotak pasir, dan juga lap pel”
Fokus pada Manfaat
“Masih jaman nyapu dan ngepel sendiri? Xiaomi Mijia 1C adalah vacuum cleaner otomatis yang siap membuat rumah Anda tetap bersih walau Anda tak punya waktu untuk bersih-bersih.
Alat ini dilengkapi dengan sistem visual dynamic navigation untuk menjangkau seluruh sudut rumah Anda, bahkan termasuk di bawah kasur dan sofa!”

Di titik ini, pasti Anda sudah bisa melihat perbedaannya.

Ya, penawaran yang fokus pada fitur hanya menjelaskan isi produk. Jika calon pembeli tidak familiar dengan fitur-fiturnya, tentu mereka tak akan paham apa manfaat yang ditawarkan produknya.

Lain halnya dengan penawaran yang berfokus pada manfaat. Calon pembeli bisa langsung mengerti kenapa mereka butuh produk tersebut. Mereka juga tahu jelas manfaat yang ditawarkan produknya.

Oleh karena itu, selalu jelaskan manfaat dari setiap fitur yang ditawarkan. Sehingga, calon konsumen bisa tahu apakah produknya bisa jadi solusi atas permasalahan yang mereka alami.

4. Action

Selamat! Jika sampai pada tahap ini, berarti Anda sudah berhasil membuat calon konsumen tertarik pada produk Anda.

Apakah itu cukup? Belum. Anda perlu mengarahkan mereka untuk melakukan pembelian.

Calon konsumen yang tertarik dengan konten Anda di tiga tahap sebelumnya perlu diarahkan kemana harus membeli produk sebagai solusi permasalahan mereka

Saat menerapkan action, Anda harus memanfaatkan call-to-action, yaitu suatu kalimat ajakan yang mengarahkan calon konsumen untuk melakukan sesuatu. Contohnya seperti:

  • “Klik link ini untuk memesan!”
  • “Tekan banner di bawah untuk melakukan pembelian”
  • “Isi alamat email Anda untuk berlangganan!”
  • Dan sejenisnya.

Ingat, tak semua calon konsumen yang tertarik akan membeli sekarang juga. Ada kemungkinan mereka akan menunda pembelian dan pada akhirnya tidak jadi membeli.

Untuk menghindari hal ini, Anda bisa coba menawarkan promo terbatas. Contohnya seperti yang dilakukan oleh J.Co di salah satu postingan Instagram mereka:

contoh-action-jco

Seperti yang Anda lihat, mereka menawarkan harga promo (Hanya dengan Rp.48.000!). Setelah itu, mereka juga menjelaskan batas periode promonya (Promo berlangsung hingga tanggal 31 Mei 2020). Ini tentu akan mendorong calon pembeli untuk segera melakukan transaksi.

Untuk memudahkan audiens dalam mendapatkan informasi lebih lengkap atau langsung melakukan pembelian, J.CO tak lupa mengarahkan audiens untuk mengunjungi website utama mereka

Contoh Penerapan Konsep AIDA

Pada bagian sebelumnya, Anda sudah belajar cara menerapkan konsep AIDA langkah demi langkah.

Lalu, bagaimana cara menerapkannya sekaligus? Yuk lihat beberapa contohnya!

Penerapan AIDA di Caption Media Sosial

Berikut adalah salah satu contoh penerapan AIDA yang sangat baik di caption media sosial:

contoh-aida-eiger

Mari kita bedah satu per satu isi captionnya!

  1. Pada kalimat pertama, Eiger menggunakan kalimat attention yang berisi manfaat produk. (Tas laptop 15” namun tetap ringkas)
  2. Selanjutnya, mereka menarik interest dengan menjelaskan bahwa calon konsumen bisa mendapatkan tas bermuatan laptop 15” dengan diskon spesial.
  3. Agar pembaca tergugah untuk membeli, kalimat desire menjelaskan berbagai fitur produknya. Mulai dari kompartemen laptop yang luas, hingga modelnya yang cocok untuk sekolah atau kuliah.
  4. Pada akhirnya, pembaca diajak untuk langsung action dengan mengunjungi website mereka. Ajakan ini diperkuat dengan adanya promo cashback bagi para pembeli.

Penerapan AIDA di Artikel Blog

Apakah AIDA hanya bisa diterapkan untuk konten jualan saja?

Tentu saja tidak. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, AIDA adalah pedoman yang tepat untuk berkomunikasi dengan calon pembeli. Jadi, Anda bisa menggunakannya untuk berbagai hal, termasuk saat menulis artikel blog.

Mengapa Anda perlu mempraktikkan AIDA di artikel blog? Tentu agar pembaca tertarik membaca artikelnya hingga selesai.

Sebagai contoh, berikut adalah contoh AIDA di salah satu artikel blog Niagahoster:

contoh-aida-blog

Untuk melihat praktik AIDA-nya secara lebih jelas, mari kita gali kalimat per kalimat:

  1. Pada kalimat awal, penulis menarik attention dengan menyinggung permasalahan yang berpotensi dialami pembaca (upaya SEO tidak optimal karena tidak tahu algoritma Google terbaru)
  2. Selanjutnya, penulis menarik interest pembaca dengan menjelaskan kenapa permasalahan tersebut penting untuk dibahas (algoritma Google berpengaruh terhadap optimasi SEO)
  3. Setelah itu, penulis memberi solusi. Caranya dengan menjelaskan bahwa pembaca akan mengetahui update algoritma Google terbaru di artikel tersebut. Ini untuk memicu desire pembaca agar artikelnya dibaca hingga tuntas.
  4. Sebagai penutup, kalimat action digunakan untuk mengajak pembaca menyimak panduannya hingga selesai.

Ayo Mulai Praktikkan AIDA Sekarang Juga!

Salah satu cara terbaik untuk berkomunikasi dengan pembaca konten atau calon konsumen adalah dengan menggunakan konsep AIDA.

Konsep ini bisa Anda gunakan di mana saja, mulai dari halaman penawaran produk hingga artikel blog. Dengan menggunakannya, Anda bisa menarik perhatian calon konsumen sampai mengarahkan mereka ke pembelian.

Di artikel ini, Anda sudah mempelajari cara mempraktikkan konsep ini serta melihat berbagai contoh penerapannya. AIDA adalah salah satu dari sekian banyak teknik yang bisa Anda gunakan saat melakukan pemasaran digital.

Ingin belajar lebih dalam tentang digital marketing? Yuk download panduan lengkap digital marketing pemula! Klik banner di bawah untuk mengunduh, gratis kok!